Sastra biasanya dibaca dengan perasaan dan interpretasi. Namun sejak teks digital tersedia luas, peneliti juga membaca novel dengan cara lain: menghitung, memetakan, dan memvisualisasikan. Pendekatan ini dikenal sebagai bagian dari humaniora digital.
01Frekuensi kata
Menghitung kata yang paling sering muncul, setelah membuang kata umum seperti 'dan' atau 'yang', dapat memperlihatkan tema utama sebuah novel. Pada novel gotik, misalnya, kata yang berkaitan dengan rumah, bayangan, dan masa lalu bisa menonjol.
Membandingkan frekuensi kata antarbab juga dapat menunjukkan pergeseran suasana cerita.
02Melacak tokoh
Dengan mencatat kemunculan nama tokoh di setiap bab, kita bisa membuat grafik kehadiran tokoh sepanjang cerita. Jaringan tokoh, yaitu siapa muncul bersama siapa, dapat divisualisasikan sebagai peta hubungan.
Grafik semacam ini membantu pembaca baru memahami struktur novel panjang dengan banyak tokoh.
03Memetakan emosi
Analisis sentimen memberi skor positif atau negatif pada kalimat berdasarkan kamus kata. Hasilnya bisa berupa 'kurva emosi' cerita, dari awal yang tenang hingga konflik dan penyelesaian.
Namun metode ini kesulitan menangkap ironi, sindiran, dan bahasa kuno, sehingga hasilnya perlu dibaca dengan hati-hati.
04Data sebagai pelengkap, bukan pengganti
Angka dapat membuka pertanyaan baru, tetapi interpretasi tetap membutuhkan pembacaan dekat dan pemahaman konteks sejarah. Data menunjukkan 'apa', sedangkan pembaca dan peneliti menjelaskan 'mengapa'.
Banyak karya klasik yang sudah masuk domain publik tersedia dalam format digital gratis, sehingga siapa pun bisa mencoba analisis sederhana.
Sebelum percaya sebuah angka, tanyakan:
- Siapa sumbernya?
- Bagaimana diukur?
- Kapan dan di mana?
- Dibandingkan dengan apa?
Coba hitung perubahan persen dan CAGR dengan kalkulator data.
Catatan metodologi: artikel ini bersifat penjelasan (explainer). Angka yang muncul sebagai contoh dimaksudkan untuk ilustrasi perhitungan, bukan data resmi.
Menemukan kesalahan? Kirim koreksi ke [email protected].